Menteri Agus: Pemasyarakatan Harus Memanusiakan Manusia di HBP ke-62

Metropolitanin8.com – Tangerang – Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menegaskan pentingnya pendekatan humanis dalam sistem pemasyarakatan saat peringatan Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 Tahun 2026, Selasa (28/04/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan ini dihadiri sejumlah pejabat negara, di antaranya Yusril Ihza Mahendra, perwakilan DPR RI, unsur Kepolisian, serta Kementerian Sosial.

Dalam sambutannya, Agus Andrianto menegaskan bahwa sistem pemasyarakatan harus berorientasi pada nilai kemanusiaan.

“Pemasyarakatan harus memanusiakan manusia. Warga binaan harus diperlakukan dengan pendekatan yang manusiawi agar mereka dapat kembali ke masyarakat dengan lebih baik,” ujarnya.

Peringatan HBP ke-62 juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan pelayanan publik, antara lain:

  • donor darah,
  • penampilan marching band,
  • serta penyaluran bantuan sosial.

Pemerintah juga memberikan dukungan ekonomi kepada keluarga warga binaan, berupa:

  • bantuan gerobak usaha,
  • serta bantuan dana sebesar Rp5 juta bagi penerima terpilih.

Bantuan tersebut bertujuan membantu meningkatkan perekonomian keluarga warga binaan.

Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan yang relatif baru dibentuk terus berupaya memperkuat sinergi lintas instansi. Salah satu fokusnya adalah memberikan pelatihan keterampilan (skill) bagi warga binaan sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat.

Namun demikian, Menteri Agus juga mengakui masih adanya sejumlah tantangan, di antaranya:

  • keterbatasan kapasitas hunian,
  • serta persoalan peredaran narkotika di dalam lapas dan rutan.

“Permasalahan overkapasitas dan penyalahgunaan narkotika masih menjadi tantangan yang harus kita benahi bersama,” ungkapnya.

Momentum HBP ke-62 ini diharapkan menjadi titik refleksi bagi seluruh jajaran pemasyarakatan untuk terus melakukan pembenahan, termasuk meminimalisir praktik-praktik menyimpang oleh oknum.

Dengan semangat “Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima”, pemerintah menargetkan sistem pemasyarakatan yang lebih humanis, profesional, dan berintegritas ke depan. (Amoy dan Tim)