Metropolitanin8.com — Lebak – PT Rizki Bangun Beton menegaskan komitmennya dalam menjaga kualitas beton readymix yang digunakan untuk mendukung pembangunan jalan di Kabupaten Lebak melalui program Bang Andra. Perusahaan mengingatkan seluruh kontraktor pelaksana agar disiplin menerapkan standar pengecoran dan perawatan beton demi menghasilkan infrastruktur yang berkualitas, kuat, serta tahan lama.
Humas PT Rizki Bangun Beton, Achmad Syarif, yang juga dikenal sebagai mantan wartawan dan aktivis senior, mengatakan bahwa pengendalian mutu beton menjadi prioritas perusahaan. Setiap tahapan produksi diawasi tenaga ahli untuk memastikan beton yang dipasok sesuai dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan.
“Proses produksi diawasi ketat oleh ahli beton. Secara berkala kami melakukan pengujian mutu untuk memastikan beton yang dikirim benar-benar sesuai spesifikasi,” ujar Achmad Syarif.
Ia menjelaskan, PT Rizki Bangun Beton didukung legalitas perusahaan yang lengkap, sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta izin ritel resmi dari Dinas Perdagangan. Kelengkapan tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan kegiatan usaha sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut Syarif, program Bang Andra memberikan dampak positif bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas antarwilayah. Pembangunan jalan mempermudah warga menuju sekolah dan puskesmas, sekaligus membuka akses pemasaran hasil pertanian sehingga berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.
Namun, ia menilai keberhasilan pembangunan jalan tidak cukup hanya mengandalkan kualitas material. Disiplin kontraktor dalam melaksanakan tahapan pengecoran, perlindungan permukaan, hingga perawatan beton juga menjadi faktor penting yang menentukan usia pakai jalan.
Kontraktor Diminta Disiplin Terapkan Standar Pengecoran
Syarif menyoroti praktik di lapangan ketika satu proyek pembangunan jalan menggunakan beton dari beberapa pemasok sekaligus untuk mengejar target penyelesaian pekerjaan.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diimbangi dengan pengawasan yang konsisten agar seluruh beton yang digunakan memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam proyek.
“Kalau satu proyek disuplai beberapa pemasok, seluruh pihak harus tetap mengacu pada standar mutu yang sama. Jangan sampai perbedaan kualitas material maupun penanganan di lapangan berdampak terhadap ketahanan jalan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan kontraktor agar tidak mengabaikan prosedur teknis yang dapat menyebabkan beton mengalami keretakan sebelum mencapai umur layan yang diharapkan.
Sejumlah langkah penting yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pengecoran, antara lain:
1\. Memperhatikan kondisi cuaca. Pengecoran perlu direncanakan dengan mempertimbangkan panas terik dan hujan. Jika kondisi cuaca berisiko mengganggu mutu beton, kontraktor harus menyiapkan perlindungan serta metode pelaksanaan yang sesuai.
2\. Memastikan tanah dasar padat. Sebelum pengecoran, kondisi tanah dasar harus diperiksa dan dipadatkan sesuai spesifikasi teknis agar mampu menopang konstruksi secara merata.
3\. Melakukan perawatan beton atau curing. Perawatan kelembapan beton harus dilakukan sesuai metode dan spesifikasi yang ditetapkan. Untuk pekerjaan yang mensyaratkannya, penyiraman atau metode curing lain dilakukan secara konsisten selama tujuh hari atau sesuai ketentuan teknis proyek.
4\. Melindungi permukaan beton. Permukaan beton yang baru dicor perlu dilindungi dari penguapan berlebihan, paparan matahari langsung, dan hujan yang dapat mengganggu proses pengerasan. Terpal, geotekstil, atau metode perlindungan lain dapat digunakan sesuai kebutuhan.
5\. Melakukan pemotongan sambungan tepat waktu. Pemotongan sambungan atau joint saw cutting harus dilaksanakan berdasarkan spesifikasi teknis dan kondisi pengerasan beton. Batas waktu maksimal 12 jam setelah pengecoran perlu disesuaikan dengan rancangan sambungan dan kondisi lapangan agar risiko retak tidak terkendali dapat diminimalkan.
Syarif mengungkapkan bahwa pihaknya masih menemukan kekhawatiran terhadap pelaksanaan perawatan beton yang dinilai belum optimal, termasuk penyiraman yang tidak dilakukan secara konsisten dan pemotongan sambungan yang terlambat.
“Masih ada kontraktor yang tidak melakukan penyiraman selama tujuh hari dan terlambat memotong sambungan. Padahal, beton sebaik apa pun, jika penanganannya salah, berisiko mengalami keretakan,” katanya.
Pengujian Mutu Dilakukan, Tanggung Jawab Diperjelas
Untuk menjaga transparansi dan menghindari saling lempar tanggung jawab apabila ditemukan kerusakan, PT Rizki Bangun Beton menyatakan telah mencantumkan kewajiban kontraktor dalam dokumen kontrak, khususnya terkait pemadatan tanah dasar, perlindungan permukaan, dan perawatan beton.
Perusahaan juga menyebut setiap pengiriman beton didampingi teknisi yang melakukan pengujian kelandusan atau slump test. Selain itu, benda uji beton disiapkan untuk menjalani pengujian kuat tekan di laboratorium independen.
Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan mutu beton dapat diperiksa berdasarkan hasil pengujian, bukan semata-mata melalui penilaian visual di lapangan.
Syarif menegaskan bahwa apabila terjadi keretakan, pemeriksaan harus dilakukan secara objektif dengan menelusuri penyebabnya, mulai dari kualitas material, proses pengangkutan dan pengecoran, kondisi tanah dasar, hingga metode perawatan setelah pengecoran.
Jangan langsung menuding batching plant kalau terjadi keretakan. Kami berani menjamin secara tertulis, jika keretakan terbukti murni karena kesalahan kami, kami siap memperbaikinya. Retak kecil dapat ditangani dengan injeksi grouting jika sesuai hasil evaluasi teknis. Jika kerusakannya parah, bagian tersebut dapat dibongkar dan dicor ulang menggunakan beton baru,” jelasnya.
Ia menambahkan, penentuan metode perbaikan harus didasarkan pada pemeriksaan teknis agar penanganan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan tingkat kerusakan dan tidak sekadar menutupi masalah di permukaan.
Dukung Pembangunan Jalan Lebak yang Berkualitas
PT Rizki Bangun Beton berharap seluruh pihak yang terlibat dalam program Bang Andra, mulai dari pemasok material, kontraktor pelaksana, hingga pengawas proyek, dapat menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab.
Menurut Syarif, pembangunan infrastruktur yang berkualitas membutuhkan kerja sama semua pihak. Kualitas material harus diimbangi dengan pelaksanaan konstruksi yang benar, pengawasan yang konsisten, serta perawatan beton sesuai standar teknis.
“Kami ingin pembangunan jalan di Kabupaten Lebak benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Karena itu, mutu material harus dijaga dan standar pengecoran wajib dipatuhi. Jangan hanya mengejar target penyelesaian, tetapi mengabaikan kualitas hasil pekerjaan,” pungkasnya.
Dengan pengendalian mutu yang baik dan kedisiplinan seluruh pihak, pembangunan jalan melalui program Bang Andra diharapkan dapat menghasilkan infrastruktur yang aman, nyaman, dan memiliki daya tahan sesuai perencanaan, sekaligus mendukung mobilitas serta pertumbuhan ekonomi masyarakat Kabupaten Lebak.
(Suhendar)

