Galian Berair dan Tanah Menumpuk, K3 Proyek Drainase Dipertanyakan!

Metropolitanin8.com – Tangerang – Pelaksanaan proyek Lanjutan Pembangunan Drainase Jalan Kuta Baru, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, dengan nilai anggaran sekitar Rp2,6 miliar, menjadi sorotan. Kondisi pekerja di dalam galian, timbunan tanah di tepi lubang, genangan air dan lumpur, hingga aktivitas alat berat di sekitar lokasi memunculkan pertanyaan serius mengenai penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta pengawasan teknis proyek.

Dokumentasi lapangan memperlihatkan sejumlah pekerja beraktivitas di dalam galian drainase yang cukup dalam. Pada bagian dasar terlihat air dan lumpur, sedangkan material tanah hasil galian menumpuk di dekat bibir galian, Rabu (14/10/2026).

Dalam dokumentasi tersebut, sistem penahan atau pengamanan dinding galian juga tidak terlihat secara jelas. Sementara itu, sebuah excavator tampak beroperasi tidak jauh dari posisi pekerja.

Kondisi visual ini belum cukup untuk memastikan telah terjadi pelanggaran standar keselamatan. Namun, situasi tersebut patut diperiksa oleh penanggung jawab proyek, pengawas teknis, dan petugas K3 karena pekerjaan di dalam galian memiliki risiko yang harus dikendalikan secara serius.

Pertanyaan mendasarnya: apakah kondisi galian tersebut telah dinilai aman sebelum pekerja diperbolehkan melakukan aktivitas di dalamnya?

Proyek drainase bukan sekadar pekerjaan memasang saluran beton di sepanjang jalan. Pekerjaan galian, penempatan material, pengoperasian alat berat, pengendalian air, dan perlindungan pekerja merupakan bagian penting dari pelaksanaan konstruksi.

Timbunan tanah yang berada dekat bibir galian dapat menambah beban pada sisi galian. Apabila kondisi tanah tidak stabil dan pengamanan tidak memadai, risiko longsoran perlu diantisipasi melalui metode kerja serta sistem perlindungan yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Begitu pula dengan keberadaan air dan lumpur di dasar galian. Kondisi tersebut perlu dinilai oleh tenaga teknis untuk memastikan kestabilan dasar, keselamatan pekerja, dan kelayakan pekerjaan dilanjutkan.

Karena itu, pihak pelaksana perlu menjelaskan langkah pengamanan yang diterapkan, termasuk pengendalian air, penempatan material hasil galian, pembatasan area alat berat, serta perlindungan terhadap pekerja dan pengguna jalan.

Nilai proyek sekitar Rp2,6 miliar membuat pertanyaan mengenai mutu pekerjaan dan keselamatan tidak bisa dianggap sepele. Penggunaan anggaran publik harus diikuti pelaksanaan pekerjaan yang memenuhi persyaratan kontrak dan ketentuan keselamatan yang berlaku.

Persoalan lain yang perlu dijelaskan adalah pemasangan elemen drainase atau U-ditch pada kondisi galian yang terlihat masih mengandung air dan lumpur.

Apakah air tersebut telah dikendalikan sesuai metode kerja? Apakah dasar galian telah dipersiapkan sesuai gambar kerja dan spesifikasi teknis? Apakah elevasi, daya dukung dasar, serta posisi elemen drainase telah diperiksa sebelum pemasangan dilanjutkan?

Pertanyaan ini penting karena kualitas pemasangan tidak cukup dinilai hanya dari saluran yang terlihat sudah terpasang. Kondisi dasar galian dan tahapan pekerjaan juga perlu diperiksa untuk memastikan hasil akhir memenuhi persyaratan teknis.

Meski demikian, keberadaan air di lokasi tidak otomatis membuktikan pemasangan salah. Penilaian harus mengacu pada spesifikasi kontrak, metode pelaksanaan, kondisi tanah, dan hasil pemeriksaan teknis.

Pihak pelaksana maupun instansi teknis perlu menjelaskan metode yang digunakan agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai pekerjaan tersebut.

Dalam proyek konstruksi, konsultan supervisi memiliki peran penting dalam memantau kesesuaian pelaksanaan pekerjaan dengan gambar, spesifikasi teknis, jadwal, dan ketentuan kontrak.

Karena itu, kondisi galian, genangan air, timbunan tanah di tepi galian, serta aktivitas alat berat di dekat pekerja perlu menjadi bahan evaluasi.

Sejumlah pertanyaan layak dijawab secara terbuka:

  • Apakah konsultan supervisi telah memeriksa kondisi galian sebelum pekerjaan dilanjutkan?
  • Bagaimana pengawasan terhadap metode pemasangan U-ditch dan persiapan dasar galian?
  • Apakah pengendalian air dan pengamanan dinding galian telah dinilai sesuai kondisi lapangan?
  • Siapa yang bertanggung jawab memastikan pekerja terlindungi dari risiko longsoran dan pergerakan alat berat?
  • Apakah terdapat catatan inspeksi, instruksi perbaikan, atau evaluasi keselamatan dari pengawas proyek?

Jawaban tersebut penting untuk mengetahui apakah pengawasan dilakukan secara nyata di lapangan dan bagaimana risiko pekerjaan dikendalikan.

Jika ditemukan ketidaksesuaian, langkah perbaikan perlu dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan ketentuan yang berlaku.

Untuk memperoleh penjelasan berimbang, wartawan telah berupaya meminta konfirmasi kepada Erni selaku Sekretaris DTRB terkait pelaksanaan proyek drainase Jalan Kuta Baru.

Konfirmasi tersebut mencakup kondisi keselamatan pekerja, metode pemasangan drainase, penanganan genangan air, pengamanan galian, serta peran konsultan supervisi dan pejabat teknis dalam pengawasan pekerjaan.

Namun, hingga naskah ini disusun, redaksi menyatakan belum menerima jawaban atas konfirmasi yang telah disampaikan.

Belum adanya tanggapan tidak dapat ditafsirkan sebagai pengakuan atas dugaan pelanggaran. Meski demikian, penjelasan dari instansi terkait tetap diperlukan agar publik mengetahui langkah pengawasan yang telah dilakukan.

Sekdis DTRB Erni dan instansi teknis terkait diharapkan dapat menjelaskan apakah kondisi di lapangan telah diketahui, apakah pemeriksaan keselamatan telah dilakukan, serta apakah terdapat evaluasi terhadap metode pelaksanaan proyek.

Proyek drainase berada di area yang masih berdekatan dengan aktivitas masyarakat dan lalu lintas kendaraan. Oleh sebab itu, pengamanan galian terbuka, pengaturan alat berat, pembatasan area kerja, dan perlindungan pengguna jalan juga perlu diperhatikan.

Pihak pelaksana dan pengawas harus memastikan bahwa pekerjaan tidak hanya mengejar target penyelesaian, tetapi juga memperhatikan keselamatan pekerja serta masyarakat di sekitar lokasi.

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kondisi berbahaya, tindakan pengamanan dan perbaikan perlu segera dilakukan sesuai prosedur. Apabila ditemukan ketidaksesuaian teknis, evaluasi harus mengacu pada dokumen kontrak, spesifikasi, dan hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Anggaran sekitar Rp2,6 miliar menuntut pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan, baik dari sisi mutu konstruksi, keselamatan kerja, maupun pengawasan.

Metropolitanin8.com meminta DTRB Kabupaten Tangerang, pihak pelaksana, dan konsultan supervisi memberikan penjelasan terbuka mengenai kondisi pekerjaan drainase Jalan Kuta Baru.

Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi Erni selaku Sekdis DTRB, pejabat teknis, kontraktor pelaksana, konsultan supervisi, serta pihak terkait lainnya.

Pemberitaan ini merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial pers. Dugaan ketidaksesuaian teknis dan keselamatan tetap memerlukan pemeriksaan serta klarifikasi dari pihak yang berwenang.

Penulis: Yuli Amran
Editor: Redaksi

Loading