Metropolitanin8.com – Sidoarjo – Sebanyak 600 penari dari berbagai daerah memadati Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (17/10/2026), dalam gelaran Festival Munali Patah 2026. Mengusung semangat “Menghidupkan Tradisi, Menyatukan Generasi”, festival ini menjadi panggung kolosal untuk merawat warisan budaya sekaligus memperkenalkan seni tradisi kepada generasi muda.
Hentakan kendang dan gemerincing lonceng di pergelangan kaki para penari menghadirkan suasana semarak. Peserta yang terdiri atas anak-anak usia sekolah dasar hingga remaja datang dari Sidoarjo, Surabaya, Pasuruan, Mojokerto, dan Malang.
Ketua Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Kabupaten Sidoarjo, Ribut Wijoto, menegaskan bahwa festival tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga gerakan kebudayaan untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga identitas bangsa.
“Melainkan sebuah gerakan kultural yang menyentuh kesadaran kolektif untuk merawat identitas bangsa,” ujarnya.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sidoarjo, Sukartini, hadir mewakili Kepala Disdikbud Sidoarjo, Ridho Prasetyo.
Dalam kesempatan tersebut, Sukartini menyampaikan bahwa partisipasi peserta tahun ini meningkat sekitar 40 persen dibandingkan festival kebudayaan sebelumnya.
Peningkatan itu menjadi indikasi positif bagi keberlangsungan seni tradisional, terutama ketika anak-anak dan remaja turut mengambil bagian dalam pertunjukan berskala besar.
Kehadiran generasi muda diharapkan tidak hanya memperkuat keberadaan Tari Remo sebagai kesenian khas Jawa Timur, tetapi juga mendorong proses pewarisan pengetahuan, teknik, dan nilai budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Festival tersebut juga dihadiri Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sidoarjo, Misbakhul Munir, yang dikenal memiliki ketertarikan terhadap kesenian.
Dalam rangkaian acara, panitia turut memberikan penghargaan kepada puluhan seniman, pegiat kesenian, pengelola sanggar, komunitas seni, serta komunitas Guru Penulis Puisi Sidoarjo sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam mengembangkan kehidupan kebudayaan.
Di balik kemeriahan Festival Munali Patah 2026, terdapat sosok maestro seni asal Sidoarjo, Munali Patah, yang namanya diabadikan dalam penyelenggaraan festival tersebut.
Munali Patah lahir dan wafat di Desa Banjarkemantren, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Ia dikenal melalui kiprahnya dalam dunia seni pertunjukan, termasuk kesenian ludruk dan aktivitas berkesenian melalui Ludruk Radio Republik Indonesia (RRI).
Sebelum dekade 1960-an, Tari Remo kerap menjadi bagian pembuka dalam pertunjukan ludruk dengan durasi yang relatif panjang, sekitar 30 menit. Melalui pengembangan dan penyederhanaan struktur tarian, Munali Patah dikenal berperan dalam membentuk Tari Remo yang lebih ringkas, dengan durasi sekitar 10 hingga 15 menit.
Pembaharuan tersebut membantu Tari Remo berkembang sebagai pertunjukan yang dapat disajikan secara mandiri, tidak hanya sebagai bagian dari pementasan ludruk. Perkembangan berikutnya melahirkan beragam gaya Tari Remo yang dikenal di berbagai daerah di Jawa Timur.
Peran tersebut menjadikan Munali Patah sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan seni pertunjukan tradisional di Sidoarjo dan Jawa Timur.
Seniman keroncong senior asal Sidoarjo, Agus Subagyo, mengapresiasi penyelenggaraan festival yang mengangkat kembali nama Munali Patah.
Menurutnya, Sidoarjo memiliki alasan kuat untuk terus memperkenalkan sosok maestro tersebut kepada masyarakat. Ia juga berharap festival dapat dikembangkan secara profesional dan berkelanjutan, seperti penyelenggaraan festival seni tradisional yang telah dikenal luas di daerah lain.
“Munali Patah adalah figur ikonik pelopor kebudayaan seni di Sidoarjo, yang perjuangannya melalui ludruk. Beliau lah yang mengangkat Tari Remo hingga menjadi ikon Jawa Timur sekarang,” ungkap Agus.
Ia juga mengenang pengalaman keluarganya yang memiliki hubungan langsung dengan sang maestro.
“Kakak saya pernah diajari tari Nge-remo sama Munali Patah. Jadi teringat sosok beliau yang luar biasa hebatnya, melihat langsung ngajari nari Remo di hadapan kakak saya. Beliau juga aktif di RRI (Radio Republik Indonesia) Surabaya, beliau sering tampil nge-remo dan mengajarkan tari Remo,” imbuhnya.
Kenangan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya berlangsung melalui panggung pertunjukan, melainkan juga melalui proses belajar, pengalaman pribadi, dan pewarisan keterampilan secara langsung.
Penyelenggaraan Festival Munali Patah 2026 menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap seni tradisional di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola hiburan masyarakat.
Keterlibatan ratusan penari lintas daerah menunjukkan adanya ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mempelajari kesenian daerah. Namun, keberlanjutan pelestarian budaya membutuhkan dukungan yang konsisten, mulai dari sanggar seni, seniman, lembaga pendidikan, komunitas, hingga pemerintah daerah.
Melalui festival ini, masyarakat diharapkan semakin mengenal sosok Munali Patah dan memahami peran pentingnya dalam perkembangan Tari Remo.
Lebih dari sekadar pertunjukan massal, festival tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi akan tetap hidup apabila terus dipelajari, dipentaskan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penulis: Eka Aristiya Juni Artomo
Editor: Redaksi
Sumber: Menaramadinahnews.com
![]()

