Metropolitanin8.com – Kota Medan -Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) melalui Dinas Pendidikan resmi akan menerapkan sistem belajar lima hari sekolah mulai tahun ajaran baru 2025/2026. Program ini bertujuan mencegah maraknya tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan keterlibatan dalam geng motor.
Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Alexander Sinulingga, menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan arahan langsung Gubernur Sumut Bobby Nasution, dan akan mulai berlaku serentak pada akhir Juli 2025 di seluruh jenjang SMA, SMK, dan SLB se-Sumut.
“Dengan belajar selama lima hari, tentu akan menekan tingginya angka tawuran, penyalahgunaan narkoba, dan aktivitas geng motor di kalangan pelajar,” kata Alexander, Jumat (1/8/2025).
Selain aspek keamanan, program ini juga diharapkan dapat memberikan waktu yang lebih berkualitas (quality time) antara siswa dan orang tua. Dengan libur Sabtu dan Minggu, pengawasan keluarga terhadap anak meningkat, serta dapat memperkuat karakter anak sejak dini.
Lebih lanjut, Alexander menambahkan bahwa sistem lima hari sekolah ini juga diyakini mampu mendorong sektor pariwisata dan UMKM lokal, karena keluarga memiliki lebih banyak waktu luang untuk berkegiatan bersama.
“Tumbuh kembang anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga,” tegasnya.
Program ini juga dihubungkan dengan visi nasional Indonesia Emas 2045 dan selaras dengan kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Alexander menyebut, kebijakan ini merupakan bagian dari visi besar “Sumut Berkah” menuju provinsi yang unggul dan berkelanjutan.
Pendapat Akademisi dan Praktisi Pendidikan
Terpisah, Assoc. Prof. Dr. Rudi Salam Sinaga, S.Sos., M.Si, Dosen Universitas Medan Area, menilai bahwa kebijakan ini akan berdampak positif terhadap interaksi sosial siswa di keluarga dan lingkungan sekitar. Ia menyoroti pentingnya program pemerintah untuk memanfaatkan hari Sabtu secara edukatif dan sosial.
“Kebijakan lima hari belajar akan maksimal bila hari Sabtu dapat diprogramkan untuk membangun kembali jati diri bangsa, terutama melalui interaksi siswa dengan keluarga dan komunitasnya,” jelas Rudi.
Sementara itu, Dr. Mansyur Hidayat Pasaribu, M.Pd, Direktur Pusat Pendidikan Rakyat (Pusdikra) Sumut dan praktisi pendidikan, menyebut pembelajaran lima hari akan mengurangi peluang siswa terlibat dalam aktivitas negatif karena tubuh mereka akan lebih lelah dan lebih banyak istirahat di rumah.
“Quality time antara orang tua dan siswa akan terbangun lebih baik. Pola komunikasi di rumah juga meningkat karena aktivitas siswa lebih padat di sekolah,” ujar Doktor Manajemen Pendidikan UINSU ini.
Senada dengan itu, Masdar Tambusai, S.Ag, Kepala Sekolah SMK APIPSU Medan, menyambut positif kebijakan ini. Ia menekankan bahwa generasi muda Sumut harus dibentuk tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh secara mental, santun secara moral, dan kaya secara kultural.
Penulis: Rizki dan Tim
Sumber: Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Akademisi, Praktisi Pendidikan















