Metropolitanin8.com – Kab. Manggarai Timur, NTT – Di tengah kesibukannya sebagai jurnalis di Tanah Papua, Stefanus Tarsi Amat tak pernah melupakan tanah kelahirannya di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jarak ribuan kilometer tak mampu memutus tali kasih dan kepedulian terhadap kampung halaman. Bagi Stefanus, iman dan solidaritas adalah dua hal yang tak mengenal batas wilayah.
Beberapa waktu lalu, nama Stefanus kembali disebut dengan penuh syukur di Stasi Kawak, salah satu stasi Gereja Katolik di bawah Paroki Santo Agustinus Weleng, Manggarai Timur. Melalui perwakilannya, Yuvensius Sando, Stefanus menyerahkan bantuan dana sebesar Rp 6 juta untuk mendukung pembangunan Gereja Katolik Stasi Kawak.
Meski jumlahnya tidak besar, maknanya begitu dalam bagi umat setempat yang tengah berjuang membangun rumah ibadah dengan tenaga dan swadaya sendiri. Ketua Dewan Gereja Katolik Stasi Kawak, Bapak Leo, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian tersebut.
“Bantuan ini bukan sekadar uang, tapi bentuk kasih dan perhatian yang luar biasa,” ujarnya dengan penuh haru, Jumat (24/10/25).
Pembangunan gereja di Stasi Kawak merupakan cita-cita panjang umat di Desa Golomunga Barat, Kecamatan Lambaleda Utara. Selama bertahun-tahun, umat beribadah di bangunan sederhana beratap seng. Namun semangat mereka untuk memiliki rumah Tuhan yang layak tak pernah padam. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari putra daerah seperti Stefanus, menjadi bahan bakar semangat itu.
Sebagai jurnalis yang telah lama berkarya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Stefanus dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan peliputan di pelosok Papua Pegunungan. Ia kerap menulis tentang perjuangan masyarakat di daerah terpencil, dan dari situ ia belajar bahwa kepedulian sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Kita tidak harus menjadi kaya untuk berbagi. Cukup punya hati yang peka terhadap sesama,” katanya dalam perbincangan lewat sambungan telepon.
Bagi Stefanus, gereja bukan hanya tempat berdoa, melainkan juga simbol kebersamaan dan harapan umat. Ia mengaku tergerak membantu karena melihat semangat warga Kawak yang membangun dengan gotong royong tanpa menunggu bantuan besar dari luar.
“Saya tahu mereka bekerja keras dengan iman. Kalau saya bisa mengambil bagian, sekecil apa pun, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri,” ujarnya.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Yuvensius Sando dalam suasana sederhana namun penuh kehangatan. Umat menyambutnya dengan doa dan ucapan syukur. Dalam pesan yang dibacakan, Stefanus menegaskan bahwa bantuannya merupakan tanggung jawab moral dan spiritual terhadap kampung halaman.
“Gereja ini adalah rumah iman kita bersama. Saya hanya ingin menjadi bagian kecil dari karya besar ini,” tulisnya dalam pesan tersebut.
Kini, pembangunan Gereja Katolik Stasi Kawak masih terus berjalan. Setiap batu yang ditumpuk dan setiap kayu yang dipaku menjadi simbol doa dan harapan umat, termasuk dari seorang jurnalis di tanah Papua yang tetap setia pada kampung halamannya.
Bagi Stefanus, Tuhan bekerja melalui tangan-tangan kecil yang tulus. Dan di antara tembok gereja yang terus meninggi di Desa Golomunga Barat, kasih dan kepedulian itu tumbuh subur – menjembatani iman dan kemanusiaan.
Penulis: Florinus Fendi
Editor: Redaksi
Sumber: Dokumentasi Umat Stasi Kawak













