Metropolitanin8.com – Kab. SABU RAIJUA – Sebelas tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Dalam kurun waktu tersebut, Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS) terus menorehkan jejak pengabdian bagi masyarakat melalui berbagai aksi nyata di bidang sosial, pendidikan, dan kebudayaan.
Yayasan yang berkedudukan di Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini didirikan pada 2 Juni 2015 oleh dua putra daerah, Jefrison Hariyanto Fernando dan Yulius Boni Geti, dengan semangat menghadirkan perubahan melalui kerja-kerja kemanusiaan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-11 Yayasan GPS diperingati bersama 30 anak yatim piatu di Gereja Kemah Ibadah Jiwuwu, Desa Jiwuwu, Kecamatan Sabu Tengah, Selasa (2/6/2026). Dalam kegiatan tersebut, yayasan menyalurkan bantuan berupa perlengkapan sekolah, alat tulis, kebutuhan kebersihan, serta paket sembako.
Ketua Yayasan GPS, Jefrison Hariyanto Fernando, mengungkapkan bahwa selama sebelas tahun berdiri, pihaknya telah melayani sekitar 1.060 anak yatim piatu melalui berbagai program sosial yang dijalankan secara berkelanjutan bersama Gereja GMIT dan berbagai mitra lainnya.
“Sampai hari ini, Yayasan GPS telah berkolaborasi dengan Gereja GMIT membantu sekitar 1.060 anak yatim piatu di Kabupaten Sabu Raijua. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk terus hadir bagi mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang,” ujar pria yang akrab disapa Nando tersebut.
Menurutnya, kegiatan sosial yang dilakukan bukan sekadar memberikan bantuan materi, melainkan juga menjadi sarana menanamkan nilai kepedulian, gotong royong, dan semangat berbagi kepada generasi muda di tengah perkembangan teknologi yang kerap mendorong sikap individualistis.
Komitmen Yayasan GPS tidak hanya terlihat dalam pelayanan terhadap anak yatim piatu. Selama lebih dari satu dekade, yayasan ini aktif membantu masyarakat melalui berbagai program kemanusiaan dan kolaborasi lintas lembaga.
Saat pandemi Covid-19 melanda, Yayasan GPS menyalurkan ribuan masker dan vitamin kepada masyarakat. Ketika Badai Siklon Seroja menerjang Nusa Tenggara Timur pada tahun 2021, yayasan turut membantu warga terdampak melalui distribusi bahan bangunan dan bantuan sembako.
Pada tahun 2023, Yayasan GPS berkolaborasi dengan Humanity First membangun sumur bor, instalasi air bersih, serta tandon air bagi masyarakat di Kampung Raebawa, Desa Hallapaji dan Kampung Perema, Desa Tanajawa. Kerja sama tersebut terus berlanjut hingga tahun 2026 melalui program Humanity First Berkurban di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Dedikasi yayasan juga terlihat dalam bidang kesehatan. Saat Kabupaten Sabu Raijua menghadapi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) pada tahun 2025 yang mengakibatkan sejumlah korban jiwa, GPS mengajukan proposal bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) kepada PT Bio Farma.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada 8 Maret 2025, sebuah alat sentrifugasi bermerek Thermo Scientific yang berfungsi untuk pemisahan komponen darah berhasil diserahkan kepada UPTD RSUD Sabu Raijua guna mendukung pelayanan kesehatan masyarakat.
Di bidang pendidikan, Yayasan GPS terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan literasi masyarakat.
Berbagai rumah baca, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), serta Rumah Inspirasi binaan yayasan menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan remaja. Selain itu, GPS juga rutin menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah berupa seragam, tas, sepatu, buku, dan alat tulis kepada anak-anak yatim piatu.
Salah satu program unggulan yang terus berjalan adalah bimbingan belajar Bahasa Inggris gratis bagi anak-anak di Rumah Inspirasi Tunas Baru, Desa Bolua, Kecamatan Raijua.
Menariknya, program tersebut melibatkan mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) sebagai relawan pengajar, sehingga pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki dapat ditransfer kepada generasi muda.
“Kami ingin anak-anak di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Karena itu, kami menghadirkan program bimbingan Bahasa Inggris gratis agar mereka memiliki bekal menghadapi masa depan,” kata Nando.
Selain bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan, Yayasan GPS juga dikenal aktif dalam pelestarian budaya lokal Sabu Raijua.
Melalui berbagai kegiatan dokumentasi, penelitian, pelatihan, penerbitan buku, hingga produksi film dokumenter, yayasan berupaya memastikan kekayaan budaya daerah tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Nando yang juga merupakan penulis buku Mitologi dan Budaya Sabu Raijua menjelaskan bahwa GPS secara rutin berkolaborasi dengan komunitas dan lembaga lain untuk mengangkat nilai-nilai budaya lokal.
Salah satu capaian penting terjadi pada tahun 2024 ketika Yayasan GPS bersama Yayasan Marungga meluncurkan sebuah website khusus bagi komunitas penghayat kepercayaan Jingitiu di Sabu Raijua sebagai bagian dari upaya dokumentasi dan pelestarian budaya.
GPS juga membina sejumlah sanggar seni budaya, di antaranya Sanggar Anak Legenda di Desa Tanajawa dan Sanggar Niki Deo di Desa Bolua, Kecamatan Raijua. Kedua sanggar tersebut mendapatkan pendampingan serta dukungan fasilitas berupa alat musik tradisional dan kebutuhan pendukung lainnya.
“Kami tidak hanya mendokumentasikan budaya, tetapi juga memberdayakan para pelaku budaya melalui sanggar-sanggar binaan agar seni tradisi tetap hidup di tengah masyarakat,” jelasnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian budaya, yayasan secara rutin menyelenggarakan pementasan cerita rakyat dan pelatihan menulis cerita rakyat bagi pelajar SMA dan SMK di Kabupaten Sabu Raijua.
Terbaru, pada 1–3 Mei 2026, Yayasan GPS menggelar pelatihan menulis cerita rakyat yang diikuti 30 siswa-siswi SMA/SMK. Kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal sekaligus mengasah kemampuan literasi mereka.
Memasuki usia ke-11 tahun, Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua terus memperkuat komitmennya untuk menjadi jembatan harapan bagi masyarakat.
Semangat kolaborasi, kepedulian sosial, peningkatan kualitas pendidikan, serta pelestarian budaya menjadi fondasi utama dalam setiap langkah pengabdian yang dilakukan.
Sebagai bagian dari rangkaian program tahun 2026, Yayasan GPS bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua akan menyelenggarakan Festival Seni, Literasi Budaya dan Pameran Pangan Lokal pada 24–26 Juli 2026 mendatang.
Festival tersebut diharapkan menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat untuk merayakan kekayaan budaya, memperkuat literasi, serta mengangkat potensi pangan lokal sebagai identitas dan kebanggaan Kabupaten Sabu Raijua.
Sebelas tahun telah berlalu, namun semangat pengabdian Yayasan GPS tetap menyala. Dari anak-anak yatim piatu, pendidikan, kesehatan, hingga pelestarian budaya, GPS terus membuktikan bahwa perubahan besar selalu berawal dari kepedulian yang tulus.
Penulis: Florianus Fendi
Editor: Pamungkas
Media: Metropolitan In8











