Parkir Stasiun Tangerang Kembali Disorot, Jurnalis Terhambat Tugas

Metropolitanin8.com – Kota Tangerang – Keterbatasan lahan parkir di Stasiun Kereta Api Tangerang kembali menuai sorotan publik setelah terjadi ketegangan antara seorang awak media dan petugas parkir, Rabu (7/1/2026) sekitar pukul 13.00 WIB.

Peristiwa tersebut melibatkan Rafi (35), seorang jurnalis, dengan seorang petugas parkir bernama Rizky, di area parkir Stasiun Tangerang, kawasan Pasar Anyar.

Insiden bermula saat Rafi hendak memarkirkan sepeda motor sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan KRL Commuter Line untuk kepentingan tugas peliputan. Namun, petugas parkir menyampaikan bahwa area parkir dalam kondisi penuh.

Meski demikian, Rafi mengaku masih melihat adanya ruang parkir yang secara visual memungkinkan untuk digunakan. Karena tengah dikejar waktu liputan, ia meminta bantuan petugas untuk mencarikan solusi alternatif.

Menurut Rafi, permintaannya justru ditanggapi secara singkat oleh petugas dengan pernyataan, β€œparkir saja di bawah,” tanpa penjelasan tambahan maupun solusi yang jelas. Jawaban tersebut dinilai disampaikan dengan nada kurang komunikatif.

Merasa kesulitan mendapatkan kejelasan, Rafi kemudian mengambil foto kondisi parkiran yang penuh sebagai dokumentasi dan bahan laporan kepada pimpinan redaksi, mengingat aktivitas liputannya terhambat.

Situasi sempat memanas ketika petugas parkir tersebut juga memotret Rafi tanpa memberikan penjelasan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman dan memicu adu argumen singkat di lokasi.

Akibat kejadian tersebut, Rafi memutuskan untuk tidak memarkirkan kendaraannya di area stasiun dan memilih melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor. Ia menilai insiden ini mencerminkan perlunya evaluasi sistem parkir serta peningkatan kualitas komunikasi pelayanan publik, khususnya di jam-jam sibuk.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pengelola parkir maupun pihak Stasiun Tangerang terkait insiden tersebut. Namun, persoalan keterbatasan lahan parkir di Stasiun Tangerang diketahui telah lama menjadi keluhan pengguna jasa kereta, terutama pada jam padat aktivitas.

Insiden ini menjadi pengingat pentingnya pelayanan publik yang lebih komunikatif, solutif, dan humanis, guna mencegah kesalahpahaman antara petugas lapangan dan masyarakat pengguna layanan. (David)