Metropolitanin8.com – Kabupaten Tangerang – Suasana haru dan penuh khidmat terlihat di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bayur Kali, RT 001 RW 004, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan Timur, sehari setelah perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Warga setempat berbondong-bondong melaksanakan tradisi nyekar atau ziarah kubur sebagai bentuk penghormatan serta doa kepada keluarga dan leluhur yang telah meninggal dunia.
Tradisi turun-temurun ini terus dijaga oleh masyarakat Bayur Kali sebagai bagian dari kearifan budaya lokal. Sejak pagi hari, warga mulai berdatangan dengan membawa bunga tabur, air, serta perlengkapan doa. Mereka membersihkan area makam, mencabut rumput liar, dan merapikan nisan sebelum memanjatkan doa bersama.
Salah satu tokoh masyarakat setempat menuturkan bahwa tradisi nyekar bukan sekadar ritual tahunan, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam.
“Setelah Lebaran biasanya keluarga besar berkumpul. Dari situ kami bersama-sama datang ke makam orang tua atau saudara untuk mendoakan mereka. Ini sudah menjadi bagian dari budaya kami,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengingat akan kematian sekaligus momentum untuk mempererat silaturahmi antarwarga yang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
Anak-anak hingga orang tua tampak ikut serta dalam kegiatan ziarah. Bagi generasi muda, tradisi ini menjadi sarana edukasi untuk mengenal nilai budaya serta pentingnya menghormati leluhur. Para orang tua juga memanfaatkan momen tersebut untuk mengajarkan doa-doa dan tata cara berziarah kepada anak-anak mereka.
Selain membaca doa, sebagian warga terlihat melantunkan ayat suci Al-Qur’an di samping makam keluarga. Suasana semakin khusyuk ketika doa dipanjatkan secara bersama-sama. Beberapa keluarga juga menggelar doa khusus bagi anggota keluarga yang baru meninggal dunia.
Tradisi nyekar turut membawa dampak positif bagi lingkungan pemakaman. Area makam menjadi lebih bersih dan terawat karena warga bergotong royong menjaga kebersihan. Aktivitas ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar, termasuk pedagang bunga tabur.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi nyekar tetap bertahan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Bayur Kali. Modernisasi tidak menggerus nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta spiritualitas yang tetap dijunjung tinggi.
Semangat Idul Fitri yang sarat makna maaf dan kebersamaan menjadikan tradisi nyekar sebagai pelengkap dalam mempererat hubungan manusia dengan Sang Pencipta serta dengan sesama, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada.













