Metropolitanin8.com – Sabu Raijua
Sejumlah anggota Ormas Grib Jaya Kabupaten Sabu Raijua mendatangi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Raboaba, Desa Raboaba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (30/08/2025).
Kedatangan rombongan yang dipimpin Ketua DPC Grib Jaya Sabu Raijua, Ridolof Djami Ga, bertujuan menanyakan langsung kepada pengelola SPBU terkait penyebab kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang sudah terjadi selama sepekan terakhir.
Menurut Ridolof, kelangkaan ini menimbulkan keresahan di masyarakat, terutama para pemilik kendaraan roda dua, mobil pribadi, maupun truk pengangkut hasil pertanian yang terhambat beroperasi. Kondisi tersebut, kata dia, turut mengganggu aktivitas pemerintahan dan perekonomian di Kabupaten Sabu Raijua.
“Kami dari Ormas Grib Jaya datang ke SPBU Raboaba untuk menanyakan penyebab kelangkaan BBM ini dan meminta solusi agar masyarakat tidak semakin kesulitan,” ungkap Ridolof Djami Ga.
Hal senada juga disampaikan Ketua Bidang Keamanan Grib Jaya, Yunus Lay Udju. Ia mempertanyakan kebijakan pembatasan pembelian BBM oleh pemerintah daerah. Sesuai aturan yang berlaku saat ini, kendaraan roda dua bertangki kecil hanya diperbolehkan mengisi 4 liter untuk kebutuhan empat hari, sementara roda dua bertangki besar hanya 7 liter untuk tujuh hari.
“Kami ingin tahu apakah kebijakan ini tepat dan sesuai dengan kuota BBM yang tersedia, karena kebutuhan masyarakat semakin mendesak,” ujarnya.
Sementara itu, pengelola SPBU Raboaba, Muklis Albone, menjelaskan bahwa kelangkaan BBM terjadi akibat keterlambatan pasokan dari Pertamina. Hingga Agustus 2025, realisasi distribusi BBM baru mencapai 46 persen dari kuota yang ditetapkan untuk Sabu Raijua.
“Pembatasan pengisian dilakukan agar stok BBM tidak habis total sambil menunggu pasokan berikutnya. Untuk BBM subsidi juga tidak boleh dijual oleh pengecer di pinggir jalan, yang boleh hanya BBM non-subsidi,” jelas Muklis.
Salah satu tokoh masyarakat, Jhoni Pili Menggi, turut mengeluhkan dampak kelangkaan ini terhadap aktivitas sehari-hari. Ia mendesak pemerintah daerah segera mencari solusi agar sisa kuota BBM dapat terserap maksimal.
“Pemerintah harus cepat mengambil langkah agar kelangkaan BBM di Sabu Raijua segera berakhir. Jangan sampai aktivitas masyarakat dan perekonomian terus terganggu,” tegasnya. (Florianus Fendi-red)














