Metropolitanin8.com – Tangerang – Peringatan Hari Santri Nasional 2025 menjadi momentum penting untuk kembali menegaskan nilai utama dunia pesantren: adab sebelum ilmu.
Di tengah derasnya arus digital yang kian mengikis kesantunan dan tata krama, pesantren masih menjadi benteng moral dan akhlak umat Islam.
Namun semangat suci itu sempat terusik setelah muncul tayangan di salah satu stasiun televisi swasta yang dianggap melecehkan dunia pesantren. Tayangan tersebut memicu reaksi luas dari masyarakat, terutama para tokoh agama dan santri.
Salah satu yang angkat bicara adalah Ustadz Muslih Wijaya Kusuma, atau akrab disapa Aa Uje, pimpinan Majlis Darus Syifa’ul Qolbi – Saung Kalong, di Cibodas Kidul, Kota Tangerang, Banten.
Menurutnya, pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi juga ladang tempat tumbuhnya adab, sopan santun, dan cinta.
“Orang yang berilmu tapi tanpa adab ibarat pisau tajam di tangan anak kecil. Ia bisa melukai siapa saja, termasuk dirinya sendiri,” ujar Aa Uje dengan nada lembut namun penuh makna, Rabu (22/10/2025).
Suasana Damai di Saung Kalong Tangerang
Malam di Saung Kalong Tangerang selalu menghadirkan ketenangan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para santri menggema di udara, menciptakan suasana religius yang meneduhkan.
Beberapa santri tampak membersihkan karpet untuk tempat mengaji, sebagian lain membuka mushaf dan menyiapkan diri untuk menghafal doa-doa pendek. Semua dilakukan tanpa perintah, hanya karena cinta kepada ilmu dan kerinduan akan ridha Allah.
Aa Uje dikenal luas karena keseimbangannya antara ketegasan dan kelembutan dalam mendidik santri. Ia gemar memberikan hadiah kecil kepada santri yang berprestasi dalam ibadah dan hafalan.
“Kadang saya kasih sarung, kadang baju koko. Untuk anak-anak yang rajin puasa sunnah, hafalan doa, atau mau jadi bilal saat Ramadan,” tutur Aa Uje sambil tersenyum.
Hadiah seperti sarung, baju koko, minyak wangi, atau gelang bukan sekadar benda. Di tangan santri, itu menjadi simbol kasih sayang dan kehormatan dari guru mereka.
“Ini sarung hadiah dari Aa Ustadz. Sarungnya bagus dan wangi. Tadinya nggak mau aku pakai, mau aku simpen aja,” ujar seorang santri kecil dengan mata berbinar.
Pusat Dakwah, Seni, dan Kreativitas Santri
Selain belajar agama, Saung Kalong juga aktif menjadi pusat kegiatan seni dan budaya Islam.
Di sini ada kelompok marawis, hadroh, dan latihan silat rutin yang diikuti santri-santri muda. Mereka sering tampil di berbagai acara masyarakat seperti pernikahan dan peringatan hari besar Islam.
“Kami tidak pernah mematok harga. Siapa saja boleh mengundang, cukup beri sedekah seikhlasnya. Yang penting anak-anak bisa berdakwah dengan cara yang diridhai Allah,” ujar salah satu pengurus tim hadroh.
Semangat kemandirian ekonomi santri juga tumbuh lewat Rahayu Darma Store atau Saung Kalong Store, tempat para santri memproduksi kaos dan merchandise bertema dakwah.
Salah satu alumninya, Aziz, kini menjadi penggerak usaha sablon tersebut.
“Dulu saya cuma bantu nyapu dan buat kopi untuk guru. Sekarang saya ingin membalas lewat karya agar nama Darus Syifa’ul Qolbi tetap hidup dan bermanfaat,” ungkapnya.
Saung Kalong: Rumah Ilmu, Cinta, dan Adab
Berdiri sejak tahun 2007, Saung Kalong telah menjadi rumah bagi ratusan santri dari berbagai latar belakang.
Berlokasi di RT 02 RW 05, Kelurahan Cibodas, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, tempat ini menjadi bukti nyata bahwa cinta dan adab bisa tumbuh dari kesederhanaan.
“Di sini, anak jalanan bisa duduk sejajar dengan anak pejabat. Karena di hadapan ilmu, semua sama. Yang membedakan hanyalah adabnya,” ujar Aa Uje penuh kebijaksanaan.
Kini, banyak alumni Saung Kalong telah menyebar ke berbagai daerah. Ada yang melanjutkan studi di pesantren lain, ada pula yang membuka majelis pengajian di rumah masing-masing. Semua berjalan dengan bimbingan dan izin Aa Uje agar nilai adab dan keikhlasan tetap menjadi ruh perjuangan mereka.
Menjawab Polemik dengan Keteladanan
Saat pesantren mendapat sorotan negatif dari media, Aa Uje memilih untuk bersikap tenang dan bijak.
“Kita tidak perlu marah, cukup jadikan pelajaran. Karena tugas santri bukan mencaci, tapi memperbaiki. Bukan membalas dengan kata, tapi dengan adab,” ujarnya lembut.
Dari Saung Kalong di Cibodas Kidul, cahaya adab itu terus menyala — bukan dari sorot kamera, melainkan dari hati seorang guru yang ikhlas membimbing muridnya.
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang dipenuhi opini dan ego, Saung Kalong menjadi pengingat bahwa masih ada tempat di mana adab dan cinta dijaga dengan sepenuh hati.
“Ilmu takkan berkah tanpa adab. Karena sebelum berilmu, haruslah beradab.”
(Redaksi)















