Festival Li Dara Wini Semarakkan HUT GPS ke-11, Ribuan Warga Meriahkan Pelestarian Budaya Sabu Raijua

Metropolitanin8.com – Kab. Sabu Raijua – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-11 Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS) sekaligus memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia, Yayasan GPS sukses menggelar Festival Budaya Li Dara Wini selama tiga hari, mulai 30 Juli hingga 1 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di halaman Perpustakaan Daerah Izak Huru Doko, Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Sabu Raijua, Tobias Uly, dan disambut antusias ribuan masyarakat.

Festival menghadirkan beragam pertunjukan budaya, mulai dari teater, monolog, tarian kreasi, Tari Ledo Hawu, tutur cerita rakyat, Pedoa Massal, hingga penampilan musik dari SR-Projek. Selama tiga hari pelaksanaan, ribuan pengunjung memadati lokasi untuk menyaksikan kekayaan budaya lokal yang ditampilkan sanggar-sanggar binaan Yayasan GPS.

Pada hari pertama, masyarakat disuguhkan penampilan monolog, tari kreasi, dan pertunjukan Sanggar Anak Legenda dari Kecamatan Hawu Mehara. Hari kedua diisi dengan Tari Ledo Hawu, pementasan cerita rakyat, serta monolog mengenai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Sabu Raijua, Minggu (02/08/2026)

Puncak acara pada malam terakhir ditandai dengan pertunjukan teater, Tari Ledo, Pedoa, hingga Pedoa Massal yang turut diikuti Bupati Sabu Raijua Krisman Riwu Kore bersama masyarakat.

Ketua Yayasan GPS, Jefrison Hariyanto Fernando, menjelaskan bahwa Festival Li Dara Wini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiana dan LPDP, serta berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dan KADIN Kabupaten Sabu Raijua.

“Festival ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam melestarikan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat Sabu Raijua. Terima kasih kepada Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, KADIN, dan seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini,” ujar Jefrison.

Ia menjelaskan, sejak berdiri pada 2 Juni 2015, Yayasan GPS telah bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan kebudayaan. Di bidang sosial, yayasan telah membantu sekitar 1.060 anak yatim piatu melalui berbagai program bantuan pendidikan dan kebutuhan pokok.

Di bidang pendidikan, Yayasan GPS mengembangkan rumah baca di Pulau Sabu dan Raijua serta memberikan bimbingan belajar Bahasa Inggris secara gratis. Sementara di bidang kebudayaan, yayasan aktif melakukan penelitian, pendokumentasian budaya, penulisan buku, produksi film dokumenter, serta membina berbagai sanggar seni sebagai upaya menjaga warisan budaya daerah.

Sementara itu, Wakil Bupati Sabu Raijua Tobias Uly memberikan apresiasi atas penyelenggaraan festival yang dinilai menjadi wadah penting dalam melestarikan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat merupakan modal besar dalam menjaga budaya sekaligus mendorong kemajuan Kabupaten Sabu Raijua,” ungkapnya.

Festival Budaya Li Dara Wini 2026 juga dihadiri unsur Forkopimda, DPRD, BRIN, akademisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, komunitas budaya, pelaku UMKM, serta berbagai organisasi masyarakat sipil yang bersama-sama mendukung pelestarian budaya Sabu Raijua.

Penulis: Florianus Fendi
Editor: Pamungkas
Sumber: Yayasan Generasi Peduli Sabu Raijua (GPS)