Lapas Kelas I Tangerang Jadi Pusat Inovasi Batako FABA, Perkuat Pembinaan Berbasis Industri Ramah Lingkungan

Metropolitanin8.com – Tangerang – Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tangerang kembali menegaskan perannya sebagai pusat pembinaan produktif berbasis industri ramah lingkungan melalui program produksi batako berbahan FABA (Fly Ash dan Bottom Ash).

Komitmen tersebut diperkuat dengan kunjungan studi tiru dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Indramayu pada Rabu (18/2/2026). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut surat permohonan bernomor WP.11.PAS.UM.01.01-386 tertanggal 17 Februari 2026, sekaligus mempertegas posisi Lapas Kelas I Tangerang sebagai rujukan nasional dalam pembinaan kemandirian berbasis industri berkelanjutan di lingkungan Pemasyarakatan.

Rombongan Lapas Indramayu bersama perwakilan PLN Nusantara Power Unit PLTU Indramayu diterima melalui sesi pemaparan program dan peninjauan lapangan terstruktur.

Dalam kunjungan tersebut, peserta memperoleh gambaran menyeluruh mengenai:

  • Pengelolaan bahan baku FABA
  • Proses pencetakan batako
  • Pengendalian mutu produksi
  • Standar keselamatan kerja
  • Skema pembinaan karakter warga binaan

FABA sendiri merupakan produk turunan limbah sisa pembakaran batu bara yang diolah menjadi material konstruksi alternatif bernilai ekonomis sekaligus ramah lingkungan, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular.

Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, menegaskan bahwa program ini tidak semata berorientasi pada hasil produksi.

“Program ini dirancang untuk membentuk karakter Warga Binaan melalui disiplin, tanggung jawab, dan etos kerja. Kami ingin mereka kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan nyata dan mental yang kuat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kegiatan Kerja, Aris Supriyadi, menyampaikan bahwa optimalisasi FABA merupakan bagian dari strategi pembinaan berbasis manfaat dan keberlanjutan industri.

“Pemanfaatan FABA tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memastikan program pembinaan selaras dengan kebutuhan industri dan prinsip ramah lingkungan,” ujarnya.

Kepala Seksi Binadik dan Giatja Lapas Indramayu, Rachmad Putra Susanto, menilai pengelolaan program di Lapas Tangerang berjalan sistematis dan layak menjadi referensi nasional.

“Program ini terstruktur dan berdampak nyata. Studi tiru ini menjadi referensi penting bagi pengembangan pembinaan yang lebih inovatif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Dukungan juga datang dari Asisten Manajer SDM, Umum, dan CSR PLN Nusantara Power, Puri Handoko. Ia menyebut sinergi ini sebagai contoh konkret kolaborasi sektor energi dan Pemasyarakatan dalam mendorong ekonomi sirkular.

“Pemanfaatan FABA menjadi batako bernilai ekonomis menunjukkan bahwa limbah industri dapat dikelola secara produktif sekaligus memberi manfaat sosial,” ujarnya.

Melalui inovasi ini, Lapas Kelas I Tangerang terus mengembangkan model pembinaan yang menempatkan warga binaan sebagai subjek produktif dan berdaya saing.

Program ini diharapkan tidak hanya menghasilkan material konstruksi berkualitas, tetapi juga melahirkan sumber daya manusia terampil, mandiri, dan siap berkontribusi positif setelah kembali ke tengah masyarakat. (Red)