Jejak Jaringan Medan–Jakarta: Sabu 26 Kg Diselundupkan via Mobil Derek

Metropolitanin8.com – Pengungkapan 26,7 kilogram sabu oleh Polres Metro Jakarta Pusat membuka tabir baru peredaran narkotika lintas wilayah. Kasus ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari rantai distribusi panjang yang menghubungkan Sumatera dan Jakarta.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E. P. Hutagalung menyebut, pengungkapan ini merupakan hasil pengembangan dari kasus sebelumnya pada Desember 2025.

Dari penangkapan itu, aparat menemukan pola distribusi yang terorganisir, dengan jalur utama dari wilayah Medan menuju Jakarta.

Alur Jaringan: Dari Sumatera ke Jakarta

Berdasarkan hasil penyelidikan, jaringan ini bekerja dalam beberapa lapisan: Pemasok (Sumatera)

Narkotika diduga berasal dari jaringan di wilayah Medan yang menjadi titik awal distribusi.

Transportir (Lintas Provinsi)
Barang kemudian dikirim menuju Jakarta melalui jalur darat dengan metode terselubung.

Penyamaran Distribusi
Untuk menghindari deteksi, sabu dan cairan narkotika disembunyikan di dalam kendaraan yang diangkut menggunakan mobil derek (towing).

Penerima di Jakarta
Barang dikirim ke jaringan lokal yang bertugas mendistribusikan kembali ke pasar perkotaan.

“Modus ini digunakan untuk mengelabui petugas, seolah-olah hanya kendaraan biasa yang sedang diderek,” ujar Kasatres Narkoba AKBP Wisnu S. Kuncoro.

Baca juga: Ditresnarkoba Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran 2000 Pil Ekstasi di Depan Mall PGC

Pengungkapan dilakukan di dua lokasi berbeda, yakni di wilayah Cileungsi, Kabupaten Bogor, serta di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Di lokasi tersebut, polisi mengamankan tersangka berinisial K (41) beserta barang bukti dalam jumlah besar.

Peta Distribusi Narkotika (Sederhana)

Medan (Sumatera Utara)
⬇️ (jalur darat)
Lintas provinsi (penyamaran via mobil derek)
⬇️
Cileungsi, Bogor (titik transit)
⬇️
Jakarta Pusat (distribusi akhir)

Selain sabu seberat ±26,7 kilogram, polisi juga menemukan 900 cartridge rokok elektrik berisi cairan diduga narkotika jenis etomidate.

Temuan ini mengindikasikan adanya diversifikasi modus peredaran, dari narkotika konvensional ke produk yang lebih modern dan sulit terdeteksi.

Meski satu jalur distribusi berhasil diungkap, aparat menilai jaringan serupa berpotensi masih beroperasi dengan pola yang terus berkembang.

Penggunaan kendaraan derek dan produk vape menunjukkan adaptasi pelaku terhadap pengawasan aparat.

Kasus ini menegaskan bahwa peredaran narkotika kini tidak hanya mengandalkan jalur lama, tetapi juga memanfaatkan celah logistik dan teknologi untuk menghindari deteksi.