12 Hari Pasca Gempa, Warga Lamba Leda Bertahan Terpal Sobek

Keterangan foto: Ledogari, warga berusia sekitar 60 tahun, berada di bawah tenda pengungsian darurat di Desa Nampar Tabang, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Rabu (26/8/2026). Sejak gempa terjadi, warga masih bertahan di tenda darurat dengan kondisi terbatas.

Metropolitanin8.com – Kab. Manggarai Timur – Dua belas hari setelah gempa bumi mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026), ribuan warga di tiga desa di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih bertahan di lokasi pengungsian darurat dengan kondisi serba terbatas.

Warga Desa Nampar Tabang, Desa Liang Deruk, dan Desa Golo Munga mengaku masih membutuhkan tenda pengungsian, alas tidur, selimut, makanan, serta perlengkapan kebutuhan dasar lainnya.

Di Desa Nampar Tabang, kondisi sejumlah warga terlihat memprihatinkan. Sebagian pengungsi masih menggunakan terpal seadanya, bahkan terdapat terpal yang telah sobek. Kondisi tersebut membuat warga harus tidur beralaskan tanah dan menghadapi dinginnya udara malam.

Salah seorang warga, Ledogari, perempuan berusia sekitar 60 tahun, mengatakan dirinya bersama warga lainnya telah 12 hari bertahan di tenda darurat sejak gempa terjadi.

“Saya bersama ribuan warga lain sudah 12 hari terpaksa bertahan hidup dan tidur beralaskan tanah di bawah tenda darurat seadanya yang terbuat dari terpal robek,” ujar Ledogari di lokasi pengungsian Desa Nampar Tabang, Rabu (26/8/2026).

Kondisi serupa juga dirasakan warga lainnya. Subrianus Orly mengatakan tenda darurat yang digunakan warga belum sepenuhnya mampu melindungi pengungsi dari angin malam.

Menurutnya, beberapa tenda tidak memiliki dinding pembatas yang memadai. Ketika angin bertiup kencang, terpal yang digunakan sebagai pelindung kerap bergeser atau terbawa angin.

“Bapak Presiden dan Bapak Kepala BNPB, tolong bantu kami. Sudah masuk 12 hari kami masih tidur di bawah terpal robek beralas tanah yang dingin. Saat ini kami mulai sakit-sakitan, mengalami flu dan demam tinggi karena setiap hari terpapar angin malam,” kata Subrianus.

Meski masih menghadapi keterbatasan, warga menyampaikan apresiasi atas bantuan pangan yang telah diterima dari pemerintah maupun pihak lainnya.

Warga menyebut bantuan beras dan bahan pangan telah membantu memenuhi kebutuhan selama masa tanggap darurat. Namun, seiring berjalannya waktu, persediaan makanan mulai menipis sementara kebutuhan pengungsi terus berlangsung.

Subrianus mengatakan kebutuhan warga saat ini tidak hanya berupa bahan makanan, tetapi juga perlengkapan untuk membuat tempat tinggal sementara yang lebih layak.

“Saat ini kami butuh terpal meskipun bekas agar bisa tidur di atas tanah dengan nyaman. Kami tetap berdoa dan berharap bantuan Bapak Presiden beserta jajarannya serta Bapak Kepala BNPB dan jajarannya agar datang ke sejumlah lokasi pengungsian di Lamba Leda Utara,” ujarnya.

Warga dari tiga desa tersebut menyampaikan kebutuhan mendesak berupa sekitar 3.000 unit terpal, 3.000 lembar selimut, matras, susu bayi, beras, mi instan, serta sabun mandi dan deterjen.

Kebutuhan tersebut diharapkan dapat segera dipenuhi agar warga, khususnya anak-anak, bayi, lansia, dan kelompok rentan lainnya, dapat menjalani masa pengungsian dalam kondisi yang lebih aman dan layak.

Sementara itu, Kepala Desa Nampar Tabang Hilarius Teguh, melalui Posko Desa Nampar Tabang, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan seluruh pihak yang telah memberikan bantuan sejak terjadinya gempa.

“Terima kasih Bapak Presiden beserta jajaran dan Bapak Kepala BNPB beserta jajarannya yang sudah membantu kami mengatasi situasi darurat. Terima kasih juga kepada Bapak Bupati melalui BPBD Manggarai Timur, Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara dan semua pihak yang sudah membantu warga saya di posko pengungsian,” ujar Teguh.

Pemerintah desa berharap dukungan terhadap masyarakat terdampak dapat terus berlanjut selama masa tanggap darurat, terutama untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal sementara, pangan, kesehatan, dan perlengkapan dasar pengungsi.

Kondisi yang dialami warga di Lamba Leda Utara menjadi pengingat bahwa penanganan pascabencana membutuhkan distribusi bantuan yang cepat, merata, dan menjangkau hingga wilayah yang sulit diakses.

Warga pun berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, BPBD, serta para pihak yang memiliki kepedulian terhadap korban bencana dapat terus memperkuat penanganan di lapangan sehingga kebutuhan dasar para pengungsi dapat terpenuhi.

Penulis: Florianus Fendi
Editor: Pamungkas
Sumber: Informasi lapangan/Warga

Loading