Enam Hari Terisolasi, Korban Gempa Flores Minta Bantuan Presiden

Metropolitanin8.com – Kab. Manggarai Timur – Tangis dan kekhawatiran masih menyelimuti warga terdampak gempa bumi di sejumlah wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Memasuki hari keenam pascagempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026), warga di sejumlah desa dilaporkan masih menghadapi keterbatasan tempat tinggal, pangan, serta akses bantuan.

Salah satu wilayah yang disorot adalah Desa Nampar Tabang dan Desa Liang Deruk, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Warga setempat menyampaikan bahwa kondisi mereka masih memprihatinkan karena sebagian wilayah sulit dijangkau dan bantuan yang diterima dinilai belum mencukupi kebutuhan masyarakat terdampak.

Informasi tersebut disampaikan Stefanus Tarsi Amat, warga Desa Nampar Tabang, melalui sambungan telepon, Jumat (21/8/2026). Ia menyebut terdapat 459 kepala keluarga (KK) di wilayahnya yang membutuhkan bantuan.

“Hingga saat ini sebanyak 459 KK di desa kami belum menerima uluran tangan dari pemerintah maupun pihak-pihak lain yang berkehendak baik membantu warga kami,” ujar Tarsi.

Menurut Tarsi, kondisi sejumlah posko pengungsian masih mengkhawatirkan. Warga, termasuk bayi dan lanjut usia (lansia), terpaksa bertahan di tenda darurat dengan kondisi terbatas.

Di Desa Nampar Tabang, terdapat sekitar 23 posko pengungsian darurat yang tersebar di enam kampung. Warga mendirikan tempat berlindung secara swadaya menggunakan terpal yang dikumpulkan dari rumah ke rumah.

“Banyak terpal yang kami gunakan sudah robek-robek, tapi yang penting ada tempat berteduh untuk bayi, anak-anak, dan lansia,” kata Tarsi.

Keterbatasan tempat berlindung membuat sebagian warga harus tidur di luar tenda. Kondisi tersebut semakin berat karena warga masih dihantui kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Sementara itu, kerusakan bangunan di sejumlah lokasi juga dilaporkan cukup parah. Sebagian rumah warga mengalami kerusakan sehingga tidak lagi dapat ditempati. Warga yang kehilangan tempat tinggal kini mengandalkan posko darurat dan tempat perlindungan seadanya.

“Kami hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar gempa ini segera berakhir. Rumah kami yang menjadi tempat berteduh sudah hancur. Kami bingung nanti mau tinggal di mana,” ungkap Tarsi.

Persoalan yang kini paling dikhawatirkan warga adalah ketersediaan pangan.

Sejak hari pertama setelah gempa, warga secara swadaya mengumpulkan persediaan beras yang masih tersisa untuk dimasak bersama melalui dapur umum. Namun, memasuki hari keenam, persediaan tersebut disebut mulai habis.

Kondisi semakin sulit karena sebagian warga tidak berani melakukan perjalanan menuju wilayah perkotaan, termasuk Reo, untuk memperoleh kebutuhan pokok.

Selain trauma akibat gempa, warga juga menyebut aktivitas perekonomian di sejumlah wilayah terdampak belum berjalan normal.

“Beberapa hari terakhir memang ada sedikit bantuan dari relawan, partai, atau swadaya yang dibagikan per karung untuk tiap kampung. Namun bantuan itu habis dimakan dalam sehari, itu pun tidak semua warga kebagian,” keluh Amat.

Situasi tersebut membuat warga berharap distribusi bantuan dapat diperluas hingga ke wilayah pedalaman dan desa-desa yang sulit dijangkau.

Kondisi serupa disebut terjadi di Desa Liang Deruk dan Desa Golomunga. Di Desa Liang Deruk, gempa dilaporkan menyebabkan korban jiwa setelah seorang ibu dan anak meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan.

Peristiwa tersebut sempat menjadi perhatian publik melalui media sosial.

Namun, warga menyampaikan kekhawatiran bahwa sejumlah wilayah terdampak yang berada di pelosok masih belum memperoleh bantuan dalam jumlah yang memadai.

Masyarakat berharap pemerintah dan lembaga terkait melakukan pendataan serta pemetaan kebutuhan secara menyeluruh agar distribusi bantuan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan atau kawasan yang aksesnya relatif mudah.

Dalam kondisi yang semakin sulit, Tarsi menyampaikan permohonan langsung kepada pemerintah pusat agar segera memperhatikan kondisi warga di wilayah pedalaman.

Dengan suara bergetar, ia berharap pemerintah dapat mengirimkan bantuan pangan, tempat pengungsian yang layak, serta tim tanggap bencana ke wilayah mereka.

“Bapak Presiden, tolong lihat kami! Pemerintah tolong kami! Jangan hanya bagi bantuan di wilayah pesisir atau kota saja. Lihat juga kami di gunung dan pelosok desa. Kami bisa mati kelaparan,” ujar Tarsi sambil menangis.

Warga juga meminta pemerintah segera memastikan kebutuhan dasar para pengungsi, khususnya makanan, air bersih, terpal atau tenda, kebutuhan bayi dan anak-anak, serta pelayanan kesehatan.

“Bapak Presiden dan Bapak Menteri, tolong lihat kami. Jangan tidur melihat penderitaan rakyatmu. Kalau mau beri bantuan, jangan lupakan kami yang berada di pelosok. Kami sedih, kami lapar, dan kami sudah tidak berdaya. Kami hanya berharap jangan ada lagi korban jiwa dalam musibah ini,” katanya.

Warga terdampak berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, TNI-Polri, lembaga kemanusiaan, relawan, organisasi masyarakat, serta pihak lainnya dapat mempercepat penyaluran bantuan hingga ke lokasi yang sulit dijangkau.

Di tengah kondisi darurat tersebut, masyarakat juga diharapkan tetap mengutamakan keselamatan, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta menggunakan tempat pengungsian yang dinilai aman.

Kondisi yang disampaikan warga menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak hanya membutuhkan respons cepat di pusat-pusat keramaian, tetapi juga pendataan dan distribusi bantuan yang menjangkau masyarakat di wilayah terpencil dan terdampak langsung.

Hingga berita ini ditayangkan, informasi mengenai kondisi dan kebutuhan warga tersebut masih berdasarkan laporan warga di lapangan. Redaksi tetap membuka ruang konfirmasi dan hak jawab kepada pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, BNPB/BPBD, maupun pihak terkait lainnya mengenai penanganan dan distribusi bantuan bagi korban gempa di wilayah tersebut.

Penulis: Florianus Fendi
Editor: Pamungkas
Sumber: Laporan warga/Liputan Lapangan

Loading